Saya lega banget ketika artikel
sampah ini baru mulai ditulis. Kurang lebih sejak kemarin lusa, hati saya kayak
ada ganjalan. Gelisah. Ingin buru-buru mengetik tulisan ini. Nah, baru siang
tadi saya ada waktu. Itu pun maksa banget buat curi-curi waktu kosong. Dan malam
inilah, saya baru terbitkan bersamaan dengan hampir berakhirnya hari ini.
Dengan kesadaran penuh, saya
percaya kalau saya ini orangnya kritis, tukang komen, apa aja dipermasalahkan.
Bahkan hal kecil yang mungkin tidak merugikan saya sama sekali. Apalagi
sekarang umur saya lagi panas-panasnya buat ngomel sana-sini walau tanpa nada
tinggi dan hanya sekedar menggerutu. Kalau dibilang saya orangnya peduli, nggak
juga sih. Hendak menasihati? Ya... saya cukup sadar diri saja siapa yang saya
komentari dan siapa saya di matanya. Lagipun untuk apa menasihati orang lain untuk
tidak melanggar sementara saya masih suka melakukan pelanggaran yang sama? Setidaknya
saya harus memiliki contoh dalam keseharian saya untuk ditiru oleh orang yang
saya komentari walau hanya sekedar membuang sampah di tempatnya. Makanya saya nggak
pernah utarakan secara langsung kepada orangnya. Dan pangkal dari kekesalan
bisu itu malah membebani hati saya sendiri. Walaupun sebetulnya saya sendiri
juga sangat malu, mengapa sesuatu yang saya punya tak berguna untuk mereka?
Lama-lama nggak nyaman juga.
Akhirnya saya putuskan untuk membiarkan mereka hidup normal tanpa ‘gangguan’
saya. Bukankah saya sendiri juga merasa risih kalau harus sering mendengar
komentar orang lain tentang diri saya? Sebetulnya itu bagian dari keegoisan
yang saya punya. PELIT! Memiliki sesuatu lebih (walau hanya sedikit) untuk
berbagi tapi malah disimpan sendiri. Membiarkan orang ‘kelaparan’ sementara ‘perut’
saya ‘kenyang’.
Maka berusahalah saya untuk
mengganggpnya wajar, membiasakan diri dalam pembauran dengan orang-orang yang berbeda
dengan saya (di luar perbedaan SARA, ya) dan beragam golongan yang
mungkin sebetulnya ‘nggak wajar’ walau nggak berlebihan. Menggugurkan kebencian
saya pada mereka. Itulah yang saya maksud ‘berdamai dengan alam’. Namun kasus
saya di sini berbeda dengan ‘bersahabat dengan alam’. Karena untuk itu saya
belum mampu. Untuk apa sebenarnya saya melakukan ini? Jelas yang utama untuk
ketenangan hati saya. Selebihnya? Pasti berefek pada sisi lain juga.
Langkah pertama yang saya lakukan
yakni ‘berdamai dengan diri sendiri’. Barulah menjalakan misi sesuai tujuan
utama.
Sulitkah? Pasti! Karena saat ini
saya masih dalam tahap percobaan (semoga saja ini akan berlangsung hingga akhir
hayat saya). Dan perlahan sudah merasakan hasilnya. Meski begitu saya tetap
berharap agar akan ada orang yang lebih baik dari saya untuk merealisasikan
tujuan dari komentar saya. Memperbaiki diri mereka. Bahkan memperbaiki diri
saya juga.
Lalu apakah saya sangat lega
setelah membagikan artikel ini? Ya, sangat! Semoga bermanfaat (walau hanya
untuk mengisi waktu senggang, hehehe).
Jakarta, 13 Juni
2017
Khairunnisa